Data Center is our focus

We help to build, access and manage your datacenter and server rooms

Structure Cabling

We help structure your cabling, Fiber Optic, UTP, STP and Electrical.

Get ready to the #Cloud

Start your Hyper Converged Infrastructure.

Monitor your infrastructures

Monitor your hardware, software, network (ITOM), maintain your ITSM service .

Our Great People

Great team to support happy customers.

Tuesday, April 17, 2012

Selamat kepada BPR EKA

Selamat kepada BRP EKA yang mengambil implementasi solusi VPN dengan menggunakan Draytek Vigor. Draytek Vigor merupakan produk unggulan yang terjangkau, banyak digunakan untuk membuat online cabang dengan jumlah user sampai dengan 10 orang, dilengkapi dengan pilihan fitur Wireless Access Point, Voip Port (FXO/FXS) sehingga memudahkan integrasi hanya dengan menggunakan link speedy Telkom yang terjangkau. Koneksi VPN yang stabil, baik dengan menggunakan PP2P ataupun L2TP, semua cabang dapat terkoneksi dan menggunakan aplikasi dengan baik.
Silahkan hubungi kami untuk keperluan implementasi Draytek Vigor di perusahaan / instansi Anda.

Pentingnya Sistem HRMS untuk perusahaan

The Importance of an HRMS to Any Company

Posted in General  by Tina
Human Resource Management Software (HRMS) is an important tool for any company, whatever its size.
Think, first, what you company needs to do just to keep its head above water:
Management everywhere needs to be able to communicate effectively and efficiently with its workforces, so that a dialogue which helps sustain company culture is created, maintained and exchanged;
Remuneration needs to be paid on time and accurately;
Time and labor needs to be managed correctly, so that maximum advantage can be obtained from the resources available;
Company benefits need to be administered productively, so that workforces not only see an added value in sticking by their current employer but are also prepared to actively advocate to others the potential advantages of working for the company in question;
Finally, employee skills matrices need to be set up and tracked in order to better predict and understand future training and employment requirements;
A lot of balls to be juggling simultaneously?
Yes, if you do it the hard way. In fact, some companies seem addicted to old ways of doing things. Helping an addict isn’t always easy – especially when they don’t want to be helped.
However, whilst a good company with good people used to be able to get by with many a manual procedure, these days it’s hardly going to be enough. The competitive edge modern business demands means every procedure and process needs to get it right first time – and for far less than it cost in the past. This competitive edge can only be achieved through software systems whose intelligent implementation leads not only to greater automation and the benefits this brings but also to a digitalization of the intellectual property which constitutes a traditional HR department.
“Start as you mean to go on”
This is why a properly and wisely implemented HRMS is just as important for a company in its infancy as it is for a transnational corporation with tens of thousands of people. An HRMS implemented early on in the business cycle means the company is primed and ready for the challenges of growth from the very beginning.
Let’s imagine, however, for a second, the alternative to the above approach. Just contemplate the trauma you might encounter when, after several years of early and head-turning growth, you suddenly discover that profits seem to be taking a tumble. No one seems able to work out the reason, so – as an idea which comes out of one of a series of exploratory board meetings – you decide to carry out a company-wide opinion survey to see if some common thoughts can’t be extracted.
The survey has to be outsourced, of course – you simply don’t have the resources to carry out the task yourselves in what has clearly become (at least as per their initial reaction) an overstretched HR department.
The survey takes place over a four-week period. Personnel are all informed the results will be entirely anonymous, and that the results will be promptly communicated to all interested parties.
Unfortunately, the message that seems to get through is that anonymity will be anything but guaranteed. The survey is a disaster – everyone responds how happy they are with everything, and no one is prepared to suggest that anything at all is amiss in any way.
To cut a long story short, it would appear that in HR the message you want to get out to your employees is changing as it goes down the line.
Crunch time
One weekend, you decide to have a face-to-face with all the HR department. You invite them to a neutral conference facility and make it plain no one will be leaving until the truth is revealed and uncovered. Little by little, as people see there is no alternative, everything that has gone wrong in the past year becomes patent:
Communication is unclear – no one knows how much the workforce need to know or when;
Too many wage slips have had to be recalculated recently as new legislation on pension contributions has turned the system upside down – this has led to innumerable calls from colleagues wanting confirmation of when and how the situation will be resolved;
People in different departments are doing the same task but for different pay; they even take different periods of time to carry out the activity. This is causing friction as staff begin to believe that favoritism has begun to play a big part in how the company is managed;
As share prices have become volatile, trust in the company benefits scheme has shrunk. Many people wonder whether it is sensible to participate in such schemes, especially as they see that bonus arrangements appear to reward one’s place in the hierarchy and not one’s results;
Employees have bombarded the HR helpline asking why promised training paths have not been put in place, or why courses which did exist have now been pulled indefinitely from the matrix;
In short, an overstretched HR department is in the process of undermining all the goodwill which less than five years of astonishing growth had helped to generate.
The solution
So what’s the solution? What can you do to dig yourself out of the hole you’ve ended up in?
Anticipate the next five years of predicted growth by digitalizing, now, the whole HR department and its procedures and processes;
Give them the HRMS tool they require to get on top of the day-to-day chores – implement it intelligently by taking your time, in order to get it right first time;
By doing the above, you will release overstretched staff from the drudge of mainly manual procedures, so that they can do all the other value-adding activities which involve face-to-face and telephone support for people who will surely be in need of real people;
For good change is as challenging as bad change.
Just make sure the change you put up in front of your people is the good kind and not the bad.

Imogen Reed
England

Monday, April 16, 2012

MENANGKAN PERSAINGAN DENGAN MEMENANGKAN HATI PELANGGAN

MENANGKAN PERSAINGAN DENGAN MEMENANGKAN HATI PELANGGAN

*Inu Machfud *

Sebagai pemasar profesional, pemilik merek atau profesional dalam bidang advertising, kita semua pasti sadar sepenuhnya bahwa kita berkompetisi untuk memperebutkan pilihan pelanggan. Memperebutkan pelanggan dengan cara yang elegan lebih seperti memperebutkan ?hati mereka' dan bukan hanya memperebutkan ?billing mereka'.

Jadi, sebenarnya saat kita bersaing untuk memperebutkan hati pelanggan, hal ini dapat dianalogikan seperti saat kita berupaya untuk memenangkan hati pasangan hidup kita. Uniknya lagi, proses memilih dan memilah calon pasangan hidup juga perlu dilakukan dalam melaksanakan kegiatan marketing, dalam hal ini adalah memilih dan memilah calon pelanggan.

Bila dalam memilih calon pasangan hidup tools-nya adalah "bibit, bebet, dan bobot", maka dalam memilih dan memilah pelanggan modalnya adalah segmenting, targeting & positioning (STP). Cara kerja metode STP sederhana saja. Ide dasar dari melakukan segmentasi adalah kita melakukan review , atau memilah karakteristik pasar di mana kita akan masuk. Karakteristik itu biasanya tersegmentasi dalam beberapa kategori, yaitu kategori demografis, geografis dan psikografis. Hal yang sama pasti kita lakukan saat memilih pasangan hidup, yaitu memilah-milah kategori 'area perburuan' yang akan kita masuki. Apakah di area pekerjaan/ kampus, apakah area tempat tinggal (= tetangga sendiri), apakah area tempat hang-out, dan lain sebagainya.

Setelah kita memahami peta segmentasi pelanggan, maka tahap berikutnya adalah melakukan targetting atau memilih. Berapa tingkat usia pelanggan yang kita targetkan, kepada status gender mana, di mana area produk kita akan di pasarkan, dan kepada orang-orang dengan kebiasaan seperti apa. Sampai di sini makin mirip dengan proses memilih pasangan hidup kita bukan? setelah mengetahui 'peta area perburuan', maka kita akan menakar target kita. Masalahnya hanya apakah dalam mentarget ini kita objektif, dalam artian disesuaikan oleh kemampuan/hal yang kita bisa tawarkan, atau cenderung subjektif, karena lebih didasarkan pada ego kita.

Proses selanjutnya yang tidak kalah penting adalah melakukan positioning. Melakukan positioning berarti menempatkan citra ciri atau merek kita dalam peta benak pelanggan. Kata kuncinya adalah: seperti apa kita ingin dikenali? Apakah sebagai pribadi kita ingin dikenal sebagai anak baik-baik, anak gaul, sebagai pengusaha atau ahli di bidang tertentu, atau bila produk, apakah produk kita ingin dikenal sebagai produk premium, produk berkualitas atau produk murah meriah? tentunya positioning ini harus disesuaikan dengan target market kita. Jangan sampai kita mentargetkan pasangan hidup yang shaleh dan shaleha, berjilbab, dan taat, tetapi positioning kita adalah anak dugem!

Setelah seluruh tahap tersebut dilewati, berarti saatnya melakukan action. Tetapi action yang sembrono biasanya hanya berarti satu: kegagalan. Untuk meminimalisir gagalnya kita memenangkan hati mereka, kita perlu merancang langkah-langkah action yang sistematis, rapi dan strategis. Secara sederhana, sistematika dari action yang akan kita lakukan harus mencapai urut-urutan objektif berikut: **

*1. Awareness.* Tak kenal maka tak sayang, awareness atau pengenalan adalah kunci pertama memenangkan persaingan. Tidak soal apakah kita atau merek kita dikenal secara luas, atau hanya dikenal di lingkungan kita, selama kondisi tersebut sesuai dengan segmentasi dan target yang telah kita tentukan berupayalah sebaik-baiknya untuk meningkatkan pengenalan terhadap kita atau produk kita. Tingkat awareness menentukan sejauh mana pasar mengenal produk kita dan menjadikannya referensi.

*2. Knowledge/Comprehend. *Diterjemahkan sebagai pemahaman. Setelah kenal berikutnya kita harus mengupayakan agar target kita mengetahui siapa kita dan seperti apa produk kita. Pemahaman atau knowledge ini seringkali terabaikan karena biasanya kita lebih fokus terhadap awareness, alih-alih menjadikan produk kita terkenal. Situasinya dapat dibayangkan seperti cuplikan ini: "Sophia Latcuba? iya saya pernah denger namanya. Dia itu peragawati kan?"

Pemahaman menjadi penting agar target bisa membedakan antara siapa kita dengan siapa competitor kita DENGAN TEPAT. Dengan kata lain, pemahaman yang baik dari target harus didasarkan atas positioning yang kita miliki. Selain itu, hal yang paling buruk dengan tidak adanya pemahaman dari target terhadap identitas yang kita miliki adalah mereka tidak akan mengetahui manfaat atau value yang akan kita berikan untuk mereka.* *

*3. Attractiveness.* Pada tahap ini semua menjadi semakin menarik, setelah kenal dan tahu, selanjutnya kita harus berjuang agar target tertarik kepada kita. Minimal tertarik kepada hal-hal yang kita tawarkan. Dalam aktivitas marketing, di sinilah peran advertising yang paling penting, dengan berbagai macam tools dan pendekatan yang dimiliki. Seluruh daya upaya yang dikerahkan oleh advertising pada akhirnya adalah menciptakan ketertarikan yang kuat sebagai pull factor. Istilahnya, advertising agency adalah makcomblang yang menuntun target untuk dipertemukan dengan kita, dan mereka juga habis-habisan mendekati kita supaya tampak menarik.

*4. Preferensi. *Setelah tertarik? inilah tahap yang menentukan. Mungkin saja target mulai tertarik dan mengarahkan hatinya pada kita. Tetapi jangan lupa, dihatinya juga sudah ada ketertarikan terhadap kompetitor-kompetitor kita. Oleh sebab itu, upaya selanjutnya adalah melakukan, paling tidak kita masuk ke dalam short list dari target, atau menjadi preferensi/pilihan bagi mereka.

*5. Action. *Nah, setelah masuk shortlist tinggal harap-harap cemas dan banyak berdoa agar kita bisa memenangkan persaingan, sehingga action dari target adalah menggunakan/ membeli apa yang kita tawarkan. Namun tidak sepenuhnya seperti itu. Ada lagi strategi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan action, yaitu dengan melakukan push factor atau mendorong agar penawaran kita selalu hadir dan mengiming-imingi target di lingkungan sekitar mereka.

Untuk produk, tools yang dapat kita mainkan adalah distribusi, yaitu kita harus hadir pada setiap outlet yang kerap dikunjungi target. Harapannya, lama kelamaan mereka akan luluh, tergoda dan akhirnya selalu membeli produk. Untuk masalah hati, ya pastinya "you must always be there for him/her". Minimal lewat Yahoo Messenger atau Facebook lah.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan setelah kita berhasil mendapatkan action dari target adalah untuk selalu menjaga tingkat kepuasan pelanggan sehingga kita tetap memiliki tingkat retain (pembelian kembali) yang baik. Prinsipnya, setelah kita mendapatkan target kita, jagalah mereka, rawat dan setialah pada mereka, sehingga mereka juga dengan senang hati selalu memberikan apa yang kita inginkan dari mereka.* *

--

*Rky Refrinal Patiradjawane* Praktisi Riset Pemasaran dan Strategi