Data Center is our focus

We help to build, access and manage your datacenter and server rooms

Structure Cabling

We help structure your cabling, Fiber Optic, UTP, STP and Electrical.

Get ready to the #Cloud

Start your Hyper Converged Infrastructure.

Monitor your infrastructures

Monitor your hardware, software, network (ITOM), maintain your ITSM service .

Our Great People

Great team to support happy customers.

Friday, October 23, 2009

OSS, Low Cost Tapi Kompetitif



Oleh: Restituta Ajeng Arjanti


Apa kelebihan OSS dibandingkan dengan proprietary software? “Kelebihannya pasti dari segi biaya,” dengan tegas Agustiny, Assistant Manager PPIC PT Nufarindo, perusahaan produsen obat dan suplemen kesehatan, menjawab pertanyaan itu.

Tuntutan perekonomian sekarang ini diakui Agustiny selalu mengarah pada kondisi low cost. Itulah yang menjadi alasan PT Nufarindo beralih menggunakan open source software (OSS). “Dengan OSS kami berharap bisa membantu meningkatkan nilai kompetitif perusahaan jadi lebih baik,” dia menambahkan.

Perusahaan yang bergerak dalam industri kesehatan ini didirikan di Semarang, Jawa Tengah, pada 30 April 1974 dengan nama PT Empeeco. Pada 24 Februari 1977, namanya diganti menjadi PT Nufarindo, singkatan dari PT Nusa Jaya Farma Indonesia. Agustiny menjelaskan, “Fokus bisnis kami adalah memproduksi obat-obatan dan makanan kesehatan atau food suplement.”

Ekonomis

Penggunaan OSS di Nufarindo dimulai sejak akhir tahun 2006. “Kami menggunakan OSS dimulai dengan penggunaan aplikasi Office,” kata Agustiny. Pada pertengahan 2007, perusahaan ini secara total bermigrasi menggunakan OSS, hingga ke sistem operasinya. Sekarang, perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 1974 itu menggunakan sistem operasi Linux Mandriva. Sementara untuk aplikasi kantoran, mereka memilih menggunakan Open Office. “Semua divisi kami saat ini sudah menggunakan OSS. Kalaupun sampai ada hal yang tidak memungkinkan menggunakan OSS, kami membeli software yang legal.”

Sisi ekonomis menjadi alasan utama mengapa perusahaan kesehatan ini memutuskan untuk bermigrasi ke OSS. Diakui oleh Agustiny, saat ini perekonomian perusahaan menuntut minimalisasi biaya. OSS menjadi pilihan karena selain menawarkan pembiayaan yang lebih rendah, juga tidak kalah dengan proprietary software dalam hal kualitas. “Dengan biaya yang lebih rendah kami bisa mendapatkan manfaat yang sama dengan proprietary software,” tutur dia.

Optimis

Untuk bermigrasi dari sistem proprietary ke sistem open source, Nufarindo membutuhkan waktu sekitar lima bulan. Diakui Agustiny, kendala yang dihadapi saat itu cukup banyak. “Antara lain, user yang tidak familiar dengan program yang baru, proses edukasi yang memerlukan waktu cukup lama, dan minimnya programmer yang menguasai OSS,” papar dia. Selain itu, kurangnya dukungan beberapa hardware terhadap OSS memaksa mereka untuk melakukan penggantian hardware. “Ini otomatis memerlukan dana ekstra.” Meski begitu, perusahaan ini sadar bahwa setiap perubahan membutuhkan adaptasi dan edukasi.

Agustiny sendiri merasa optimis dengan perkembangan OSS di Indonesia. “Saya sangat optimis. Hanya saja perkembangkannya memerlukan waktu, dan akan sangat membantu jika dari pihak pemerintah mengeluarkan kebijakan penggunaan OSS,” katanya. Nufarindo, menurutnya, akan tetap menggunakan OSS dan tak menutup kemungkinan untuk menggunakan aplikasi open source yang lain. “Jika memang ada dan berguna bagi kami, pasti kami akan menggunakannya.”

Foto: blogs.zdnet.com


Posting : Selasa, 30 Desember 2008

Monday, October 19, 2009

Network Monitoring untuk Instansi Pemerintahan

Perkembangan dunia teknologi informasi Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini sangat menggembirakan. Tidak hanya karena semakin banyak yang menggunakan komputer dan teknologi informasi untuk mendukung kegiatan operasionalnya, tetapi juga karena semakin banyak aplikasi dan sistem yang dikembangkan untuk mendukung kegiatan operasional.

Sistem aplikasi ini umumnya memerlukan jaringan, minimal koneksi Internet hingga koneksi ke kantor-kantor cabang pemerintahan. Penggunaan jaringan ini semakin intensif dan menghasilkan banyak hal yang dapat dicapai dengan mudah dan cepat. Ketergantungan instansi pemerintahan kepada penyedia jaringan telekomunikasi dan penyedia jaringan Internet semakin besar. Seiring dengan perkembangan ini, maka timbullah tantangan tersendiri untuk mengetahui kualitas dan besar pengiriman data yang menggunakan media komunikasi data dan telekomunikasi.

Disinilah produk-produk ManageEngine berperan. Salah satu produk yang menjadi primadona dan banyak digunakan perusahaan-perusahaan di Indonesia adalah produk OpManager dari ManageEngine. Produk ini digunakan untuk memonitor jaringan, server, performansi jaringan dan kinerja server secara keseluruhan. Memudahkan pengamatan secara visual, penghasilan laporan kinerja jaringan dan server, serta optimalisasi jaringan.
OpManager juga memungkinkan untuk terkoneksi ke aplikasi lainnya, seperti monitoring bandwidth (Netflow Analyzer), serta aplikasi Helpdesk (ServiceDesk Plus) dan aplikasi monitoring jaringan wireless / nirkabel (Wifi Monitoring)

Dengan menggunakan OpManager, instansi pemerintahan akan mendapatkan keuntungan, seperti:
  1. Visualisasi jaringan yang terstruktur baik, tetapi tetap mudah untuk mengindentifikasi permasalahan yang muncul.
  2. Tampilan CCTV View yang memudahkan monitoring jaringan
  3. Pengelompokan obyek jaringan dengan mudah
  4. Visualisasi dengan peta atau dengan pendekatan Business View
  5. Laporan yang terkonsolidasi dengan cepat
  6. Monitoring atas kinerja yang ditargetkan (Service Level Agreement)

Silahkan hubungi kami untuk jadwal demo aplikasi, permintaan presentasi produk dan informasi harga.

Sunday, October 18, 2009

Costs of Implementing an ERP System

by Dr.Scott Hamilton

1. Costs of Implementing an ERP System*
2. One-Time Costs
3. OnGoing Annual Costs

Costs of Implementing an ERP System*

Enterprise resource planning (ERP) implementation costs can be divided into one-time costs and ongoing annual costs. Both types of costs can be segmented into hardware, software, external assistance, and internal personnel.

One-Time Costs

Software. The cost of an ERP software package varies widely, ranging from $30,000 (USD) for micro-based packages to several million for some mainframe packages. The number of concurrent users generally drives the software costs, so that smaller systems cost less. For illustrative and general guideline purposes, the software package costs range from $50,000 to $200,000 (USD) for smaller manufacturers. In addition to the ERP software package, one-time costs may include systems software, development of customized software, or integration with other applications.

Hardware. Hardware selection is driven by the firm's choice of an ERP software package. The ERP software vendor generally certifies which hardware (and hardware configurations) must be used to run the ERP system. Hardware may need to be replaced or upgraded. As a general rule, small to medium-size manufacturers already have microcomputers and a local area network, so that a micro-based ERP system built on de facto standards requires little additional investment in hardware.

External Assistance. External assistance includes the consulting and training costs to implement the ERP package. The software vendor, reseller or independent consultant groups may provide external assistance. The amount of required external assistance is dependent on several factors, such as the complexity of the ERP package, the experience or knowledge of internal personnel, and the extent to which external personnel are used in place of internal personnel to implement the system.

A general guideline for these costs has been the ratio with the cost of the ERP software package. A comprehensive micro-based ERP package typically has a .5 to 1.0 ratio; the manufacturer requires $.50 to $1.00 (USD) of external assistance for each dollar of software package costs. The elapsed time for implementation of the entire ERP application typically requires four to six months. Many of the mainframe ERP packages have a three to five ratio for the costs of external assistance. The software package typically costs more, and the elapsed time for implementation requires nine to twenty-four months.

Internal Personnel. Internal personnel time reflects the time commitments for the implementation project team, the executive steering committee, the users in various functional areas, and management information system (MIS) personnel. The time commitments include training classes, development of internal procedures for using the system, developing customized reports and applications, preparation of the data, meetings with external consultants, and team meetings. A general guideline for internal personnel costs can also be expressed as a ratio with the ERP software costs, where a typical ratio is .5 to 1.0.

The one-time costs for implementing an ERP system can be simplistically estimated using typical ratios with ERP software costs. These ratios are summarized in figure 3.4 for one-time and ongoing annual costs, along with example calculations for a $100,000 (USD) ERP software package.

The one-time and ongoing annual costs for hardware are not included in the example. In many cases, the use of de facto standard hardware means that a firm already has the hardware for an ERP system. The example shown in figure 3.4 indicates an estimated $300,000 (USD) for one time costs and $65,000 (USD) for annual costs related to an ERP system.

MSY