Data Center is our focus

We help to build, access and manage your datacenter and server rooms

Structure Cabling

We help structure your cabling, Fiber Optic, UTP, STP and Electrical.

Get ready to the #Cloud

Start your Hyper Converged Infrastructure.

Monitor your infrastructures

Monitor your hardware, software, network (ITOM), maintain your ITSM service .

Our Great People

Great team to support happy customers.

Friday, July 04, 2008

Salah satu pemanfaatan RFID lagi..

HP Launches RFID for Tracking Data Center Assets

Hewlett Packard (HP) Friday introduced a new service that enables customers to reduce property loss, increase security and improve audit controls in the data center with radio frequency identification (RFID) technology.

The HP Factory Express RFID Service tracks critical data center assets, such as HP factory-built servers, storage devices and rack enclosures, so customers can continuously monitor the equipment as soon as it is received at their facilities.

When deployed as part of a full RFID solution from HP and its partners, the service automates and tracks device movement, providing an accurate inventory of all assets throughout their lifecycle.

RFID is a data-collection technology that uses radio waves to remotely store and retrieve data to identify objects. It provides companies with up-to-the-minute supply chain visibility, including inventory and logistics dates as well as asset management capabilities.

“RFID has already proven itself to be invaluable for tracking assets,” said John Fontenalla, vice president, AMR Research.

“This new service is key to strengthening operational precision in a data center and ultimately customers’ ability to lower operational risks.”

HP offers customers a breadth of advanced RFID-related technology, such as tags, readers, middleware and business applications, for tracking, tracing, inventory management and security. The company also provides RFID consulting and integration services and is an active participant in global RFID standards development.

Data center asset management is becoming crucial to customers, particularly those with thousands of servers in multiple data centers across several geographies. Many data centers operate with manual inventory lists and have low inventory accuracy. With moves, adds and changes, keeping track of technology devices can be complex.

HP’s RFID tagging process allows technology devices to be scanned from the factory to the customer without requiring workers to manually inventory each asset. Customers can then quickly locate and maintain devices with minimal employee intervention, saving time and reducing loss or theft of valuable technology assets.

“Escalating customer demand for automated tracking led to HP’s development of this service,” said Tim Wilkinson, Regional Manager, RFID & Supply Chain COE.

“As an early adopter of RFID in our own supply chain and a world leader in RFID, HP is uniquely qualified to help customers lower their total cost of ownership and mitigate security risks through RFID services and solutions.”

HP plans to extend the service to customers worldwide via HP Factory Express locations in Singapore, Brazil and the United Kingdom.

Contoh kasus mengapa kita perlu enkripsi DATA KARYAWAN?

Google has confirmed that personal data of U.S. employees hired prior to 2006 have been stolen in a recent burglary.

Records kept at Colt Express Outsourcing Services, an external company Google and other companies use to handle human resources functions, were stolen in a burglary on May 26. An undisclosed number of employees' details and those of dependents such as names, addresses, and Social Security numbers were on the stolen computers. It is understood that Colt did not employ encryption to protect the information.

It's still unclear how many more of Colt Express' clients were affected by the breach. CBS' CNET Networks, publisher of, was also affected by the burglary, with about 6,500 employees' details stolen.

Although there is no evidence of misuse of the data to date, the information obtained could be used by identity thieves to create fake accounts and identities.

It's only come to light now that Google was one of the companies affected. Google itself was not burglarized, nor were any of its internal systems compromised.

Danny Thorpe, former chief scientist at Borland and engineer at Google who now works for Microsoft, was informed of the theft on July 1.

A letter from Google said personal data of Google employees hired prior to December 31, 2005, may have been stolen in the May 26 burglary of Colt Express Outsourcing Services. No credit card numbers were in the stolen data; just names, addresses, SSNs--all the information needed for a thief to open a credit card account under another's name.

According to Thorpe, Google has offered to cover the cost of a one-year subscription to a credit report and identity theft-monitoring service. Similar benefits were offered to CNET Networks employees.

ITWorld reported last week that Colt Express Outsourcing Services was in financial difficulty and could not help those affected. The company's CEO, Samuel Colt III, said in a statement "We do not have the resources, financial and otherwise, to assist you further."

"We take the security of our employees very seriously and require outside vendors to meet appropriate security standards. We review and update these standards on an ongoing basis," a Google representative said. "Google is not currently using Colt's services and had made this decision long before this incident."

Brendon Chase of ZDNet Australia reported from Sydney.

Tuesday, July 01, 2008

Tips Melakukan Migrasi di Perusahaan

Berikut ini tips-tips yang diberikan oleh Staff IT sebuah perusahaan manufaktur yang telah melakukan proses migrasi ke perangkat lunak OpenSource/Linux :

Yang kami lakukan selama proses migrasi adalah sebagai berikut :

Tahap I ( Migrasi ke OpenOffice )

  1. Staff IT memilih aplikasi yang seseuai dengan kebutuhan perusahaan dan mudah di pakai oleh user, yang akhirnya pilihan jatuh ke Open Office

  2. membuat surat rekomendasi / persetujuan migrasi Open Office ke General Manager dengan CC ke Manager Manager departemen lain.

  3. Setelah turun ijin maka tahap selanjutnya mendatangkan trainner Open Office dari luar perusahaan yang akan mentrainning sebanyak 5 user. 5 user ini lah yang nantinya akan kami jadikan sebagai problem solver bagi user user yang lainnya.

  4. Menjadwal pelatihan tahap 2 Openoffice dengan trainner dari dalam perusahaan yaitu staff IT ke seluruh user.

  5. Mulai dilakukannya migrasi dari MS Office ke OpenOffice.

Tahap II (Migrasi ke Linux)

  1. Mencatat user-user yang ingin dimigrasikan ke Linux. (dipaksa dengan embel embel dikasih akses internet, karena berinternet dengan Linux terbebas dari ancaman virus). User ini dianjurkan migrasi apabila user tersebut tidak berhubungan dengan aplikasi yang berbasis Clipper, Vfoxpro, Abipro.

  2. Membuat proposal persetujuan migrasi ke General Manager dengan cc ke Manajer-Manajer departemen lain.

  3. Membuat nota dinas ke user-user yang ingin dimigrasikan tentang proses migrasi ini sekaligus pengarahan.

  4. Mengirim Staff IT untuk mengikuti trainig Linux System Administrator ke lembaga pendidikan yang berkompeten (informasi-informasi bisa diperoleh dengan menghubungi KPLI/Komunitas Linux di kota ini).

  5. Mengadakan pelatihan bagi user-user yang akan migrasi dengan staff IT sebagai trainernya.

  6. Mulai melakukan migrasi bagi user-user tersebut ke Linux.

Hambatan yang dialami adalah :

  1. Banyaknya penolakan dari user untuk migrasi

  2. Kurang supportnya Linux terhadap printer Canon Pixma

  3. Waktu yang terbatas untuk mempelajari aplikasi under Linux.

  4. Banyaknya software di perusahaan yang masih sulit dimigrasi ke Linux, contohnya : Vfoxpro dan Abipro

Jalan keluarnya adalah :

  1. Dipaksa sedikit dan dibantu dengan adanya pelatihan – pelatihan untuk membiasakan user menggunakan Linux dan OpenOffice

  2. Kami menukar pakai printer yang aksesnya menggunakan Linux dengan printer yang sudah bisa dikenali di Linux yang sebelumnya terpasang di komputer Windows. Printer Canon Pixma 1700 kami ganti dengan HP 3920.

  3. Staff IT sendirilah yang akan terjun langsung ke dunia komunitas Linux untuk bertanya/mempelajari apabila ada kesulitan yang dialami User melalui bertanya ke mailing list Linux atau ke komunitas Linux terdekat seperti KPLI.

  4. Kami masih menggunakan Windows ASLI untuk aplikasi berbasis Vfoxpro

  5. Mulai menggunakan aplikasi Dosemu di Linux atau sejenisnya untuk memigrasikan software – software berbasiskan Clipper dan Foxpro ke Linux.

Bersatunya Para Pendukung Open Source

Monday, 30 June 2008 21:13

Betty AlisjahbanaOpen Source makin berkibar dan tidak mau tidak lagi dianggap remeh. Kini para pendukungnya sudah membentuk asosiasi yang sah. Tepatnya pada 30 Juni ini dilakukan penandatangan akte pendirian pembentukan Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI). Adalah nama-nama yang sudah terkenal dengan sikapnya untuk mendukung open source yang terlibat dalam pendirian asosiasi ini.

Adalah Harry Sufehmi, Teddy Sukardi, Sumitro Roestam, dan Rusmanto yang sejak awal terpilih sebagai formatur AOSI. Bersama dengan Duta Open Source Indonesia, Betti Alisjahbanayang juga mantan Presdir PT IBM Indonesia -- mereka mengukuhkan AOSI sebagai asosiasi yang legal dan memiliki sejumlah program nyata. Menurut press relesae yang diterima Warta eGov, AOSI ini terdiri atas perhimpunan organisasi pencinta, penggiat, pengembang, pemakai, pendidik, dan pendukung Open Source yang bekerja sama membangun sinergi untuk mencapai sukses bersama.

Di samping itu, ada juga sejumlah perusahaan dan lembaga penggiat Open Source terdaftar sebagai pendiri AOSI, yakni Jatis Solutions Ecom, PT Quantum Business International, PT Duta Astakona Girinda, PT Rimba Sindikasi Media, Yayasan Air Putih, PT Nurul Fikri Cipta Inovasi, PT Infolinux Media Utama, One Destination Center, Yayasan Penggerak Linux Indonesia, PT Multicom Persada International, Gudang Linux, PT Sun Microsystems, PT IBM Indonesia, PT Linuxindo Total Solusi.

Terbentuknya citra Open Source yang positif di mata masyarakat, Indonesia melakukan adopsi Open Standard secara konkret, meningkatnya pangsa pasar dan jumlah pengguna Open Source baik di perusahaan, perorangan dan pemerintah, adalah sebagian dari parameter keberhasilan AOSI di masa mendatang. Selama ini banyak yang mengeluhkan belum tersedianya piranti pendukung peripherals untuk produk Open Source, disamping layanan jasa profesional pendukung. Ini adalah bagian dari ketersediaan infrastruktur dukungan untuk pengguna Open Source yang akan digalang oleh AOSI.

"AOSI diharapkan dapat menjadi wadah utama tingkat nasional yang menciptakan sinergi bagi beragam komunitas penggiat Open Source di Indonesia. Melalui sinergi berbagai kekuatan Open Source ini kami berharap dapat membangun keunggulan TIK Nasional, " ucap Betti Alisjahbana, Duta Open Source Indonesia.

AOSI segera meluncurkan situs, mendata pebisnis Open Source Indonesia, dan mengembangkan keanggotaan. Disusul kemudian dengan sosialisasi Open Source, melakukan training teknis dan bisnis. Tidak ketinggalan juga akan melibatkan pihak pemerintah dengan mengadakan Focus Group Discussion bersama Depkominfo, Ristek, Depdiknas, Dirjen Pajak, Depdagri, Deperin Telematika untuk membahas program dab regulasi untuk mendukung berkembangnya Open Source. Ke depannya, sejumlah roadshow, pameran, dan publikasi perkembangan Open Source juga akan terus dilakukan. ( redaksi@wartaegov.comThis e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it )

Perencanaan Biaya Migrasi Linux

Wednesday, 25 June 2008 15:28
Perencanaan biaya migrasi dari Windows ke Linux perlu dilakukan secara matang, agar tidak menyisakan hidden cost di masa mendatang. Di dunia komputer, satu sistem operasi dapat diibaratkan sebagai dunia tersendiri. Ketika kita menggunakan sistem operasi Windows, maka kita bekerja di dunia Windows. Ketika kita menggunakan Linux, maka kita juga akan bekerja di dunia Linux. Berpindah dari satu sistem operasi ke sistem operasi lain pada dasarnya adalah hal yang tidak sederhana, terutama kalau kita terlalu menggantungkan diri pada sistem operasi tertentu.

Ketika kita ingin pindah dari satu sistem operasi ke sistem operasi lain, baik dengan alasan apapun, persiapan yang matang adalah salah satu kunci sukses migrasi. Persiapan bisa meliputi aspek teknis ataupun non teknis. Aspek teknis diantaranya mencakup analisa kompatibilitas hardware, migrasi data dan lain sebagainya. Persiapan non teknis diantaranya adalah budgeting.

Di tulisan ini, kita akan memfokuskan pada budgeting migrasi dari dunia proprietary ke dunia free/open source software dan isu terkait. Seperti kita ketahui bersama, di dunia proprietary, kita perlu membeli lisensi penggunaan software-software yang kita butuhkan. Umumnya, biaya yang dikeluarkan juga sudah mencakup dukungan sampai level tertentu. Dengan demikian, lebih kurang komponen terbesar dari biaya kepemilikan teknologi adalah pada biaya lisensi.

Sementara, di dunia free/open source, kita memiliki akses ke source code software yang ingin kita gunakan. Kita bebas mempelajari, memodifikasi dan menyebarluaskan source code dan software tersebut, sesuai lisensi yang digunakan. Jadi, kontras dibandingkan dengan dunia proprietary. Kalau kita ingin mengunakan software paket office misalnya, kita tinggal mendownload dan kalau perlu, kita bahkan bisa memodifikasi. Tidak ada biaya lisensi yang harus dibayarkan. Di sini, kita bisa melihat bahwa kita memiliki kebebasan, seperti arti free pada kata free software.

Sayangnya, biaya yang nyaris gratis – Anda mungkin harus mengeluarkan uang untuk membeli media distribusi, atau untuk mendownload – tidak menjadikan proses migrasi ke dunia free/open source software sepenuhnya gratis pula. Dalam biaya akuisisi suatu teknologi, kita perlu memahami bahwa biaya lisensi adalah satu komponen dari sekian banyak komponen.

Anda mungkin harus memperhatikan biaya SDM dan biaya lain (akan dibahas kemudian) yang bisa menjadi besar dalam proses migrasi ke free/open source. Ingatlah bahwa salah merencanakan bisa berarti biaya besar, namun dengan produktifitas yang rendah. Ini tentu tidak diinginkan oleh kita semua.

Agar proses migrasi bisa dilakukan dengan sukses dan seefisien mungkin, kita harus menerapkan strategi yang tepat. Dengan demikian, kita bisa 'hemat' menggunakan Linux. Ini penting karena, cukup banyak proses migrasi ke Linux yang malah gagal setelah menghabiskan cukup banyak uang, serta berujung pada antipati terhadap Linux dan free/open source software itu sendiri.

Apa yang ingin penulis coba usulkan di dalam kesempatan ini adalah proses migrasi yang dilakukan setahap demi setahap sebaik mungkin. Untuk memperjelas, kita akan menggunakan beberapa asumsi berikut:

  • Kita memiliki 100 komputer, semuanya terletak pada lokasi yang sama. Terhubung satu sama lain pada jaringan lokal. Sebagian besar terinstall Windows XP dan selebihnya Windows 98. Semua menjalankan paket office Microsoft Office.

  • Pengguna juga bekerja dengan internet, terutama untuk berselancar di web dan berkomunikasi via email.

  • Budgeting dilakukan dalam basis per tahun anggaran.

  • Perencanaan biaya juga mencakup SDM (catatan: biaya SDM bisa sangat bervariasi)

Dengan ilustrasi tersebut, kita bisa menyusun perencanaan biaya seperti contoh pada tabel berikut:


Komponen Biaya

Biaya yang dianggarkan (Rp)


Sistem operasi Linux

Media distribusi adalah CD/DVD

Per komputer adalah 50.000



Paket Office

(sudah terdapat dalam media sistem operasi)




(sudah terdapat dalam media sistem operasi)



Backup data, instalasi dan konfigurasi Linux, restore data

5 hari kerja dengan 4 SDM (1 man/day 500.000)



Pelatihan dasar pengguna

100 peserta (200.000 per peserta)



Dukungan selama 1 tahun

12 bulan dengan 2 SDM (1 man/month 1.500.000)



Konsultan sistem

12 bulan dengan 1 SDM (1 man/month 3.000.000)




Bisa kita lihat, bahwa biaya migrasi 100 komputer ke free/open source software jauh lebih murah apabila kita menggunakan sistem proprietary, dimana untuk sistem operasi (per lisensi kita asumsikan Rp 1.000.000,-) dan paket office (per lisensi kita asumsikan Rp 3.000.000,-) saja, tidak memperhitungkan SDM, biaya yang harus dikeluarkan sudah mencapai Rp 400.000.000,-

Namun, ada beberapa hal yang sangat perlu diperhatikan di sini. Yang pertama, migrasi umumnya dilakukan secara bertahap. Migrasi 100 komputer sekaligus sangatlah beresiko kalau tingkat ketergantungan dengan sistem sebelumnya sangat tinggi. Umumnya, migrasi dilakukan terlebih dahulu pada beberapa komputer (misal: 5 sampai 10 persen) yang cukup representatif. Ini tentunya, sudah melibatkan analisa sistem yang dilakukan oleh konsultan.

Yang kedua adalah kualitas SDM. Semakin matang dan berpengalaman SDM yang melakukan migrasi, maka diharapkan migrasi dapat dilakukan lebih baik. Sebagai contoh, konsultan harus mampu memutuskan distribusi Linux apa yang akan digunakan. Implementator harus bisa menggunakan metode instalasi yang paling efisien (menggunakan media CD/DVD, kloning harddisk, network install dan sebagainya). Bagian support harus mampu mendampingi user dengan baik. Alokasi biaya untuk SDM bisa semakin kecil apabila SDM bisa meningkatkan kemampuannya (sehingga migrasi bisa lebih cepat dan mulus). Selain itu, dengan Linux yang semakin mudah dan umum, diharapkan tidak membutuhkan SDM yang sangat khusus, terutama dalam implementasi.

Yang ketiga, perlu kita perhatikan bahwa sistem operasi adalah komponen yang sangat penting. Apabila memang tidak bisa memigrasikan sistem operasi (misal dari Windows ke Linux karena ada program penting yang hanya berjalan di Windows), maka lakukanlah terlebih dahulu pada program-program yang paling sering digunakan. Sebagai contoh, mengganti microsoft office dengan paket Atau, mengganti Internet Explorer dan Outlook dengan Mozilla Firefox dan Mozilla Thunderbird. Setelah halangan semakin kecil (misal beberapa tahun ke depan, aplikasi yang dibutuhkan sudah berjalan di Linux juga dan user sudah terbiasa dengan paket Office baru), barulah kita migrasikan sistem operasinya.

Yang keempat, asumsi biaya tersebut belum melibatkan porting aplikasi (yang selama ini berjalan di Windows saja menjadi dapat berjalan di beberapa sistem operasi sekaligus atau berbasis web), yang umumnya membutuhkan biaya cukup besar.

Yang terakhir adalah, kita perlu melihat biaya secara jangka panjang. Selain itu, dengan migrasi ke dunia free/open source, kita bekerja dengan proyek yang padat karya. Dan, jangan lupa, semua uang yang kita keluarkan akan berputar di dalam negeri kita sendiri.

Migrasi adalah proses yang tidak sederhana. Mulai sekarang, janganlah terlalu bergantung pada satu sistem tertentu. Ketika membangun program, pastikan berjalan pada berbagai platform. Ketika menggunakan format dokumen, gunakan format standar. Ketika bekerja pada jaringan, gunakan protokol standar.

Selamat merencanakan migrasi Anda.

Oleh : Noprianto, Praktisi Linux dan Kontributor Majalah InfoLinux ( nop@sent.comThis e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it )

Monday, June 30, 2008

Microsoft Stop Penjualan Windows XP

Fransiska Ari Wahyu - detikinet

Windows XP (ist)

Redmon, Washington - Microsoft akan menghentikan penjualan sistem operasi Windows XP-nya bagi retail dan produsen-produsen komputer besar hari Senin. Langkah ini ditempuh Microsoft di tengah hujan protes yang dilayangkan pengguna PC yang menolak beralih ke suksesor XP, Vista.

Komputer-komputer yang berbasis XP sudah tidak tersedia lagi di stok produsen PC seperti Dell, Hewlett-Packard. Bagi konsumen yang keukeuh menggunakan sistem operasi lama di komputer baru, harus membeli Vista Ultimate atau Vista Business dan kemudian secara legal men-downgrade ke XP.

Meski demikian, Microsoft masih mengizinkan outlet-outlet PC kecil untuk membeli XP dan menjualnya kembali hingga akhir Januari. Versi XP ini juga masih akan tersedia bagi PC berharga miring seperti Asus Eee PC, demikian seperti dikutip detikINET dari CNN, Senin (30/6/2008).

Kelompok konsumen yang bergabung dalam petisi "Save XP" menyerukan kepada Microsoft untuk tetap menjual XP hingga sistem operasi berikutnya, Windows 7 tersedia.