Data Center is our focus

We help to build, access and manage your datacenter and server rooms

Structure Cabling

We help structure your cabling, Fiber Optic, UTP, STP and Electrical.

Get ready to the #Cloud

Start your Hyper Converged Infrastructure.

Monitor your infrastructures

Monitor your hardware, software, network (ITOM), maintain your ITSM service .

Our Great People

Great team to support happy customers.

Thursday, September 25, 2008

Ditto Electronic Travel System (DETSY)

dari website: www.dittotravel.net

Selamat datang di DETSY (Ditto Electronic Travel System). Sebuah sistem dengan berbagai terobosan baru yang menawarkan berbagai kemudahan dan peluang bisnis terbaik yang akan menjadi trend terbesar dalam dunia travelling di masa mendatang. Melalui DETSY kami menghadirkan teknologi tercanggih dengan database travelling terlengkap ke dalam genggaman anda. Berikut adalah penjelasan tahap demi tahap mengapa DETSY menjadi sebuah trobosan terbaru, peluang usaha terbaik dengan teknologi tercanggih bagi anda :

1. Terobosan baru

Dikatakan terobosan baru karena belum pernah ada sistem sebaik DETSY sebelumnya. Dalam sebuah sistem anda akan dapat melakukan reservasi & tiketing untuk berbagai airlines dengan sharing profit s.d 80%. Selain itu DETSY dilengkapi juga dengan kemudahan untuk mengakses berbagai akomodasi perjalanan seperti hotel, transportasi, dokumen perjalanan bahkan sampai dengan paket wisata dengan agent rate (harga khusus untuk travel agent) yang akan menjadikan setiap transaksi yang anda lakukan.

2. Peluang usaha terbaik

Bagi anda yang sedang berencana untuk memulai sebuah usaha, kami menawarkan kepada anda sebuah peluang usaha terbaik, modal terjangkau dan dengan resiko yang sangat kecil. Dengan bergabung pada program ini anda sudah dapat menjalankan usaha layaknya sebuah Travel Agent tanpa harus susah payah mengurus kerjasama dengan pihak - pihak penyedian jasa akomodasi perjalanan ( Hotel, Transport, Imigrasi, Restaurant, dll) untuk mendapatkan komisi penjualan. Dengan kata lain, hanya dengan bergabung dengan program ini anda telah memiliki sebuah sistem usaha dalam bidang perjalanan yang siap mendatangkan income bagi anda dengan sangat mudah. Berbagai jenis usaha dalam bidang perjalanan telah kami siapkan bagi anda, diantaranya :

- Penjualan tiket pesawat terbang

- Penjualan voucher hotel

- Penjualan paket wisata

- Pembuatan dokumen perjalanan (Paspor & Visa)

- Penyewaan mobil / bus pariwisata.

- Dan berbagai jenis usaha lainnya yang akan kami masukkan dalam waktu dekat.

Berikut adalah ilustrasi yang akan menunjukan bahwa DETSY merupakan sebuah sistem usaha yang sangat baik bagi anda :

KIta mengetahui bahwa bisnis penerbangan pada saat ini sangalah meningkat drastis dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Ribuan bahkan puluhan ribu kursi terjual setiap harinya hanya dalam sebuah kota saja. Nah, dari sini kita ambil saja contoh jika kita dapat mencetak 10 (sepuluh) tiket saja dalam satu hari maka berikut adalah perhitungan keuntungan yang akan kita peroleh melalui DETSY :

Kita ambil saja keuntungan tiket pesawat saat ini berkisar antara Rp.10,000 s.d Rp.50,000 pertiket
KEUNTUNGAN MINIMAL = Rp.10,000 x 80% x 10 = Rp.80,000 perhari = Rp.2,400,000 perbulan
KEUNTUNGAN MAKSIMAL = Rp.50,000 x 80% x 10 = Rp.400,000 perhari = Rp.12,000,000 perbulan

Bayangkan jika anda dapat menghasilkan transaksi diatas sepuluh tiket perhari, tinggal kalikan saja jumlah tersebut dan dapatkan hasil yang luar biasa hanya dengan menjalankan sistem yang sangat sederhana ini. Bayangkan juga jika anda dapat melakukan transaksi lainnya seperti penjualan voucher hotel, rental mobil, paket wisata dan berbagai produk lainnya maka percayalah bahwa anda akan dapat menghasilkan income yang tidak kecil jumlahnya.

Jangan tunda lagi kesempatan baik ini, segeralah bergabung bersama kami untuk menciptakan sebuah peluang usaha terbaik bagi anda dengan modal investasi yang sangat terjangkau.

Kapan Sebaiknya Komputerisasi di Perguruan Tinggi Diimplementasikan?

Juni 16, 2007 oleh jsofian

“Pak, saya sudah tidak bisa mengandalkan staff saya lagi lah wong..buat laporan rekapitulasi penjualan formulir PMB minta waktunya 1 bulan, belum lagi penyimpangan di keuangan yang saya yakini sampai sekarang masih berlangsung. menurut pengalaman sisfokampus darimana harus memulai “

Keluh kesah dan pengakuan jujur dari seorang rektor sebuah perguruan tinggi swasta menjadi pembukaan pembicaraan antara rektor dan tim sisfokampus. sebenarya yang dialami oleh Rektor tersebut menjadi isu yang terjadi hampir disemua perguruan tinggi di Indonesia. Apalagi jika sang rektor sebagai businessman yang mempercayakan segala sesuatu dengan bawahannya. Tidak ada jalan lain selain menerapkan “PAKSA” suatu sistem yang sudah proven dan tested seperti Smart SisfoKampus.

Kapan sebaiknya Smart Sisfokampus sebagai solusi informasi teknologi di perguruan tinggi diimplementasikan ?. Jawabannya kalo ditinjau dari pengembangan sistem informasi secara umum, setidaknya ada 3 hal yang menjadi pemicu yaitu:

1. Adanya probelm yang terjadi di dalam manajemen perguruan tinggi. Probelm ini dapat dikategorikan menjadi human error dan mengikuti pertumbuhan dari perguruan tinggi. Seperti sulitnya memonitoring kegiatan akademik, tidak tepatnya waktu untuk membuat laporan akademik, kesulitan untuk mengetahui kondisi keuangan secara real time, lambatnya pelayanan informasi kepada calom mahasiswa, dan sebagainya. JIka ini sudah dialami oleh manajemen perguruan tinggi berarti sudah saatnya menghubungi tim sisfokampus untuk menyelesaikannya.

2. Adaya ekpektasi dan opportunity yang hendak diraih dari manajemen. Ekpektasi di sini artinya kondisi saat ini yang ada di universitas sudah dinilai cukup tetapi masih jauh dari ideal. Sedangkan opportunity dapat diartikan sebagai kesempatan untuk menjadikan income bagi manajemen. Misalkan saja database mahasiswa, dosen, dan matakuliah sudah dimiliki tetapi masih under DOS sehingga sulit untuk dikembangkan. Peralihan dari penggunaan DOS ke aplikasi yang berbasis windows diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih maksimal dari aktivitas front desk sampai dengan back office. Bagaiman dengan aspek opportunitynya ? Dengan diterapkan Smart Sisfokampus, pihak manajemen sebenarnya dapat menjadikan suatu bisnis usaha sendiri yang profitable, misalkan dengan menjalakan pelayanan SMS untuk mahasiswa dan dosen. Pelayanan per SMS dapat dikutip sebesar Rp 1000 per sekali transaksi. Apakah artinya seribu perak untuk mahasiswa yang ingin mengetahui nilai Ujian Akhir Semesternya (UAS) TETAPI jika dikalikan dengan 2000 mahasiswa dan 5 kali transaksi jumlahnya menjadi berarti yaitu Rp 10 juta.

3. Adanya directive dari pemerintah. Untuk hal ini,perguruan tidak dapat menghindari karena HARUS mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah.Masalah yang sering sekali dihadapi adalah laporan ESBED yang menjadi momok bagi perguruan tinggi yang pernah tim sisfo temui. Bagaimana tidak, aplikasi DOS yang dikeluarkan oleh DIKTI harus dipelihara dengan segala kelemahannya. Jelas staff di perguruan tinggi banyak yang dibuat “Kriting” karenanya. Nah..kabar baiknya Smart SisfoKampus hadir sebagai malaikat yang dapat membantu manajemen perguruan tinggi dalam menghasilkan laporan ESBED CUKUP HANYA DALAM SATUAN MENIT laporan dapat dikeluarkan.

----------------------------------------------------------------------------------
Kami pun mengembangkan software akademis, khususnya untuk Fakultas Kedokteran.
Nantikan berita pengembangan selanjutnya.

Tuesday, September 23, 2008

Nokia Siemens to Expand Service Management Through Channel Partners

By Rajani Baburajan
TMCnet Contributing Editor

Nokia Siemens Networks (News - Alert) (NSN) has tied up with four channel partners – KlugCom, P3 Solutions, Subex and Theta Networks – aimed at enhancing its customer base in the service management software business.


The association with the new channel partners is expected to bring new markets and technology, the company said. This will enable NSN associating with more telecom service providers to offer the company’s Operational Support Systems (OSS) and service management software to improve their customer’s service experience.

“It’s a win-win situation for all parties,” said Juhani Hintikka, head of Operations and Business Software Business Unit at Nokia Siemens Networks, in a statement. “In the complex software market, collaborating with other software specialists helps us to address service providers regardless of their network vendor or technology. These new channel partners are focused on delivering service management software that improves the end-users customer experience, which we know can have a big impact on reducing customer ‘churn’.”

Associating with channel partners is an emerging business model for several telecom equipment companies. For NSN, this is an indirect sales channel business model which ensures additional growth in new markets. Through this model, the required sales resources and competences are available to enable growth in new markets.

Indirect channel partners fall under the umbrella of Nokia Siemens Networks Channel Partner (News - Alert) Program, launched in May 2008, NSN said a media statement.

The new solutions and market reach enhances OSS capability within Nokia Siemens Networks. The company has more than 600 network management customers and more than 360 service management installations.

The nature of the association with each channel partner and the objective vary.

For instance, KlugCom will provide the OSS capability to NSN in Latin America. P3 Solutions and NSN are jointly developing software to enhance quality to customers. The software will be sold by both companies. Subex and NSN will put together service management solutions, while Theta Networks will sell the Nokia Siemens Networks provisioning solution.


------------------------------------------------------------------------------
PT.DCMS can help you to deploy OSS around Jakarta. Please contact us for details.

Monday, September 22, 2008

Why IT Needs a Blueprint: The Case for a Unified Service Model

Posted by: Helge Scheil in Best Practices

Blueprint (blōō • prĭnt) – noun: (1) something intended as a guide for making something else; “a blueprint for a house”; (2) photographic print of plans or technical drawings.

When building or making changes to a house, construction professionals rely on the architect’s blueprint - the tool that translates the needs of the homeowner into instructions for the builders, carpenters, electricians and plumbers. General contractors pull together the various blueprint elements, electrical plans, plumbing plans, floor plans and cost schedules, to build or modify the house according to building codes, to build it on schedule and on budget,. They also communicate with the owner on a regular basis, reporting on progress and making necessary adjustments along the way, always staying aligned with the home owner’s needs.

IT professionals also need a blueprint to translate the needs of the business into practical instructions. In this way, developers, systems administrators, and network managers can convert hardware, systems, applications and their multiple connection points into an enterprise computing environment that provides a company with clear economic value and sustainable competitive advantage.
The idea of an “IT blueprint” has become increasingly compelling as the complexity of IT has continued to increase. Business Service Managers, an increasingly common new role in IT organizations, are the General Contractors of IT and are being called on to translate business requirements into the guidance other IT professionals need to create services and to ensure that those services perform reliably over time. An IT blueprint shows how the various infrastructure components inter-relate to each service and provides the insight necessary to ensure more business-critical services get priority treatment. With this guidance, the IT organizations can make informed prioritization decisions that effectively meet the needs of the business -- whether those decisions have to do with requests for new IT services, support for existing ones, or the disciplined management of change.
Consider, for example, a large retailer with a highly redundant, secure IT infrastructure supporting its online storefront. The firm decides to offer a special promotion during the holidays and expects order volume to spike. Business managers want to ensure that the promotion goes smoothly and generates additional revenue. IT professionals must determine how to do this without disrupting the other services being delivered over the existing infrastructure.
An enterprise “IT blueprint” enables an IT organization to have a complete view into the services provided to the business. For example, an IT organization can determine whether additional database storage is needed---and whether it may be necessary to increase network capacity between the firm’s datacenter and key access points across the U.S. IT can translate the requirements of the business into a specific set of actions, such as an instruction to the network team to increase the bandwidth.
Leading IT organizations consider the use of an “IT blueprint”– often referred to as a Unified Service Model – to be a best practice for ensuring the delivery of high-quality, high-value services on a consistent basis. With this holistic view of IT services, IT professionals have a practical set of guidelines for how to best work with the applications, networks, systems and databases to fulfill their individual responsibilities and best meet the needs of the business.
The blueprint of a business service is not a static “snapshot”. It is a dynamic model that any IT professional can use to determine the ideal course of action when adding or changing some aspect of that environment. Since change requests are a constant fact of life in IT, a Unified Service Model t is something IT professionals need on an almost daily basis.
A Unified Service Model provides insight into the service definition—that is, the assets, people and processes that support each service--and key information about each service such as costs, service levels, problems, incidents, events and projects related to the service. A Unified Service Model is typically implemented via a CMDB with significant integration to other management tools that provide deeper insight into service attributes.
As an example, an insurance company may discover that for competitive reasons it must reduce by 50 percent the time it takes to provide quotes. With a Unified Service Model, the company’s IT organization can take a 360-degree view into how quotes are delivered, which IT assets support them, what changes are needed to achieve the faster processing times, and how those changes may impact other services. IT can thereby respond to this request with a dollar figure and an impact assessment, so that an informed decision can be made about whether to pursue a full 50 percent reduction in processing time – or whether a smaller improvement is more financially prudent.

The concept of an “IT blueprint” has been a long-time coming, but its time appears to have finally arrived. Business users and IT professionals alike recognize the central role that technology plays in driving the business. By implementing a Unified Service Model, these two groups can reap the benefits of having a common language for keeping technology spending tightly aligned with the real needs of the business.